Rabu, 26 Februari 2014

Memetik Pelajaran Dakwah dari Pertandingan si-Kulit Bundar



Siapa yang tidak mengenal permainan sepakbola?. Salah satu permainan olahraga yang paling disukai di seluruh dunia. Namun tahukah kawan, kita dapat mengambil beberapa pelajaran dari permainan tersebut dan dapat kita terapkan dalam perjuangan dakwah kita. Aahh.. ngawur sampeyan mas!, masa berdakwah harus belajar main sepakbola. Dakwah itu tempatnya di majelis ta’lim penuh dengan ilmu, jadi mana mungkin bersumber dari lapangan rumput. 

Mari kita renungi berapa banyak ayat Al Quran yang memerintahkan kita untuk senantiasa i’tibar yakni mengambil pelajaran dan hikmah dari segala peristiwa apa yang terjadi di dunia ini. 

“Maka ambillah pela¬jaran wahai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (QS. Al Hasyr : 2) 

Sesungguhnya pada (peristiwa) yang demikian itu ada pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah)“. (QS. An-Naziat) 

Dari kedua ayat di atas maka tidak salah jika kita mengambil contoh-contoh pelajaran dari sumber peristiwa yang terjadi di dunia ini. Lantas pelajaran apa yang dapat kita temukan dalam permainan sepakbola? Kekompakan tim kah, persatuan umat? Ya, memang itu beberapa yang dapat kita ambil pelajaran darinya. Namun kali ini saya tidak membahas tentang persatuan. Saya ingin memaparkan pelajaran yang lain. 

Berbicara sepakbola maka tak akan lepas dari berbicara tim. Berbicara tim maka tak akan lepas dari berbicara masalah strategi penempatan posisi pemain, pola penyerangan dan pola pertahanan. Mari kita berbicara masalah strategi penempatan posisi pemain dakwah.
Ibarat sebuah tim maka para aktivis dakwah Islam bisa saya gambarkan tidak lepas dari posisi berikut:

1) Kiper
Kiper ini adalah pertahanan terakhir dan harapan dari sebuah tim. Siapa mereka? Mereka adalah generasi muda Islam, anak-anak dan remaja. Merekalah sasaran utama musuh-musuh Islam. Jika pertahanan mereka rapuh maka hancurlah Islam ini. Oleh karenanya anak-anak dan remaja Islam ini harus diberikan bekal yang cukup, pondasi tauhid yang kokoh, akhlaq yang mulia dan wawasan yang luas.

2) Penjaga Barisan Pertahanan
Penjaga barisan pertahanan ini yang membantu untuk mencegah masuknya arus perlawanan musuh. Siapa mereka? Mereka adalah para Ibu. Merekalah yang bertanggungjawab senantiasa menjaga dan memberikan pendidikan kepada putra-putrinya. Merekalah penjaga benteng pertahanan yang dapat diandalkan. Peran mereka tidak bisa dianggap remeh. Apabila penjaganya lengah maka musuh akan leluasa masuk ke daerah pertahanan. Sebagaimana dalam hadits berikut;

“… Wanita adalah pengembala di dalam rumah suaminya, dan ia bertanggung jawab atas gembalanya”. (penggalan dari hadits yang diriwatkan Ahmad, Ibnu Majah, Abu daud, Tirmidzi dari Ibnu Umar Shahibul Jami 4445)

Sayyid Quthb menamai wanita sebagai “Penjaga benteng pertahanan” (Lihat Fi Dziilalil Qur’an : 6 : 3619)
Tidak bisa di bayangkan, bagaimana jika penjaga benteng pertahanan ini rusak, menyeleweng, atau berfikrah buruk yang meruntuhkan.. Apa gerangan yang terjadi dalam rumah tangga Islami?. Tak pelak lagi, akibatnya akan parah, maka dari itu seyogyanya setiap saudari muslimah waspada dan perihatin terhadap program yang dicanangkan musuh-musuh Islam terhadap kaum wanita, khususnya wanita muslimah. Serta menyadari peranan yang harus dimainkan.

3) Playmaker
Mereka adalah para inisiator, para da’i dan aktivis-aktivis dakwah. Mereka memainkan peranannya, mengatur pola perjuangan dakwah Islam dan membantu menjaga daerah pertahanan. Dibutuhkan banyak tenaga yang lincah, gesit dan berwawasan untuk memainkan peranan ini. Mereka harus tahu kapan waktunya maju menyerang dan kapan waktunya harus bertahan.

4) Striker
Mereka adalah para mujahid, para pejuang yang memperjuangkan ditegakkannya syariat Islam. Mereka berada di garda terdepan untuk menghalau, menyerang dan melawan arus liberalisme, kapitalisme maupun isme-isme lain yang tak sejalan dengan perjuangan Islam.

5) Pemain Cadangan
Merekalah yang dicalonkan untuk mengisi ruang kosong apabila ditinggalkan oleh para pemainnya. Merekalah yang sedang belajar menuntut ilmu syar’i. Mereka butuh pembinaan agar siap ketika waktunya mereka harus tampil dalam kancah pertandingan.

6) Manager / Pelatih dan Sponsor
Apa hebatnya sebuah tim tanpa adanya orang yang melatih mereka. Dakwah pun demikian membutuhkan para alim ulama yang menguasai Ilmu-ilmu Allah, mewarisi hikmah para Nabi. Peranan alim ulama ini sangat menentukan keberhasilan sebuah tim dakwah. Apa jadinya jika sebuah tim hebat ditangani oleh manager yang kurang profesional.

Sedangkan sponsor ini diperankan oleh pemerintah/ umara yang memegang kendali atas rakyatnya. Peran ulama dan umara ini sangat penting dan sangat erat kaitannya dengan keberhasilan sebuah tim dakwah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam : “Ada dua orang yang apabila dua orang ini baik, maka menjadi baiklah umat dan apabila buruk, maka akan menjadi buruklah umat tersebut yakni para ulama dan umara.”

Dari keenam posisi tersebut harus saling bekerja sama bahu membahu dalam menegakan agama Islam. Jika semuanya bekerja secara profesional menegakkan syiar-syiar Islam maka Insya Allah Islam ini akan kembali berjaya.

Wallahu A’lam bishowab. Wabilahit Taufiq wal Hidayah.

Rabu, 12 Juni 2013

Telapak Tangan yang Dicintai-Nya



            Sang mentari mulai berkemas dari peraduan. Bersiap-siap melakukan perjalanan suci, pergi ke ufuk barat. Namun ia belum bisa meninggalkan posnya, sebelum batang hidung sang rembulan, nampak beberapa lintang derajat. Padahal waktu sudah merangkak ke arah pukul lima sore.
Sementara itu, Umar bin Khattab beserta kedua temannya bergegas pulang. Dalam perjalanannya, mereka melewati sekelompok fakir miskin, yang sedang duduk-duduk sambil menunjukkan raut kesengsaraannya. Lantas Sayyidina Umar bertanya, “Siapakah mereka semua itu?”
Salah seorang sahabat yang ikut dengannya menjawab, “Mereka itu adalah muttawakilun (orang-orang yang berserah diri).“
Tak setuju dengan argumentasi yang terlontar, Umar r.a pun membantahnya, “Bukan, mereka itu tak lebih dari sekumpulan orang yang memakan harta manusia,”
“Maksudnya?” tanya  sahabat yang satunya lagi.
“Maukah kalian saya beri tahu, siapa yang termasuk Muttawakillun itu? tawar Umar pada kedua temannya.
“Iya,” jawab keduanya serempak.
Muttawakillun itu adalah mereka yang melemparkan biji di atas tanah, baru ia bertawakal kepada Allah SWT. []*
Bekerja. Itulah maksud dari tamsil melemparkan biji. Syahdan, bekerja adalah fitrah manusia. Islam pun sangat menghargai umatnya yang bekerja. Bekerja tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan lahiriyah atau mengejar materi saja. Namun agar bernilai, bekerja juga harus diniatkan sebagai perwujudan ibadah kepada Allah.
Beberapa contoh bagaimana Islam menginginkan umatnya untuk bekerja termaktub dalam qur’an surat at-Taubah [9]: 105, “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu....” atau dalam surat al-Jumu’ah ayat 9 : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
Lihatkan? Betapa banyak hikmah yang didapat dengan kita bekerja. Tentu saja, akan lebih berkah bila semua ditempuh dengan cara yang disenangi Allah. Dilakukan dengan niat dan cara yang baik. Untuk yang satu ini, Rasulullah pernah mengingatkan para sahabatnya, “Barangsiapa yang mencari rezeki yang halal untuk menjadi diri, maka ia akan bertemu Allah dengan wajah yang bercahaya seperti rembulan purnama. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk kebanggaan (prestise) dan menumpuk harta, maka ia akan bertemu dengan Allah, sedangkan Dia marah kepadanya.
Terakhir saya ingin menutup tulisan ini dengan satu cuplikan kisah yang luar biasa. Pada suatu ketika, baginda Rasulullah SAW bersalaman dengan Sa’ad bin Mu’adz r.a. Ternyata kedua telapak tangannya kasar, lalu Rasulullah menanyakan hal itu. “Apa yang terjadi dengan tanganmu wahai Sa’ad?” tanya Nabi. “Saya bekerja menyekap tanah untuk memberi nafkah keluargaku, ” jawab Sa’ad. Kemudian Rasulullah mencium tangannya dan mengatakan “Inilah kedua telapak tangan yang dicintai Allah.”
* dirangkum dari buku Ahmad Ad-Daur, Bantahan Atas Kebohongan Seputar Hukum Riba, hlm. 216 dengan pelbagai perubahan

Save Our Majelis Taklim



Di salah satu masjid yang berada di sebuah permukiman, seorang wanita paruh baya kembali mengelus dadanya. Sulit sekali rasanya mengumpulkan orang-orang di sana untuk sekadar duduk dan menghayati isi Alqur’an. Sesekali ia melemparkan pandangannya ke arah pintu masjid, berharap ada yang datang dan berkenan bergabung dengan perkumpulannya yang lazim disebut majelis taklim itu. Namun hingga mentari pulang dari peraduannya, tak satu jama’ah pun bertambah. 
Sedang di sudut lain. Sekelompok ibu-ibu berkumpul di sebuah resto. Dandanan menor dengan jilbab yang bermandikan manik-manik dan perhiasan emas. Sambil menenteng tas bermerk, mereka duduk-duduk centil, melebur berdasarkan teman setaranya. Menggosip menjadi rutinitas yang tak terelakan.
Para suami menjadi pengantar. Menanti dengan setia kepulangan istrinya di mobil mewah. Bergumul dengan asap rokok dan secangkir kopi yang dipesan dari warung setempat. Melahap lembaran koran yang beritanya notabene menyayat hati.
Tak yang tua, pun yang muda sama saja. Di sudut kamar, ditemani genderang musik cadas atau lagu alay gaya melayu. Para pemuda tergolek lemas, bersembunyi di balik kehangatan selimut dan empuknya keranda kapuk. Wajahnya sayu, lelah karena semalaman bergadang melahap menu sajian televisi tanpa jeda.
Gadis-gadis, asyik shoping dari factory outlet, distro, hingga pasar baru. Membeli aneka baju, pernik, dan beragam gadget mutakhir. Saling pamer dan beradu kemolekan fashion. Tanpa risih menari rampak sambil mengumbar aurat. Berkiblat pada westernisasi hingga qodrat tak lagi jadi asasi.
Sedang bocah-bocah ingusan, asyik nagen di layar komputer. Jarinya begitu lincah menari di atas keyboard, tekan enter, spasi, dan huruf lainnya. Sesekali pekiknya menggaduhkan suasana. Rupanya mereka kalah lagi saat bermain game sega online. Syahdan, adakah kita termasuk di dalamnya? []
Di tengah zaman yang penuh dengan hiruk pikuk hiburan, nampaknya lebih mudah mengumpulkan orang-orang dalam sebuah konser dengan harga tiket yang selangit. Dibandingkan, dengan mengundang orang-orang untuk duduk di sebuah majelis taklim, mendalami beberapa lembar surat cinta dari Tuhan saban pekannya.
Sadarkah kita, di tengah perang hujjah dan pemikiran. Banyak sekali paham menyesatkan yang bersumber atas nama kebebasan yang bablas.  Jangankan yang jurang kesesatannya menganga, ajaran hidup yang benar pun kerap diragukan dan dianggap sesat. Bila tak sedari awal dipupuk paham keislaman yang murni (ikhlas). Maka jangan heran, bila saat nanti konsep Islam sendiri malah terdengar asing di tengah mereka yang mengaku Muslim. Maka, keberadaan majelis taklim sebenarnya bisa menjembatani permasalahan tersebut.
Majelis taklim sebagai salah satu wadah pengkajian keislaman yang terdekat dengan lingkungan, bisa menjadi katalis pendidikan generasi qur’ani. Selama ini, majelis taklim memang diidentikan dengan perkumpulan ibu-ibu, kolot, dan menjemukan. Para pemuda pun enggan duduk dan gengsi bersentuhan dengan yang namanya pengajian. Namun, sekiranya bila kita kembali pada makna dasar dari majelis taklim itu sendiri, setidaknya kita akan memeroleh sebuah definisi yang tak jauh berbeda dengan tempat menuntut ilmu, semisal sekolah. Hanya saja majelis taklim tidak dalam formatan yang formal.
Bila di sekolah, guru adalah panutan siswanya dalam bertingkah. Juga di rumah, seorang ibu adalah madrasah bagi anaknya. Maka di masyarakat, majelis taklim adalah salah satu wadah nyata pengabdian sosial sekaligus agama. Maka teramat sayang, bila wadah yang sedemikian besar dan potensial tersebut, hanya diisi oleh ustadz-ustadz karbitan yang hanya tahu kaifiat salat dan sedekah saja. [[]]

Minggu, 12 Mei 2013

Tentang Buku yang Memotivasi

Suatu senja bersama Pelangi. Tangan ini mengambil sebuah buku sekenanya. Tak ada sesuatu yang spesial ketika memandangi cover buku tersebut. Hanya rasa kagum akan desain cover yang terlihat mewah. Entahlah apa namanya, yang jelas itu seperti sebuah plastik berpola yang ditempel dan menghasilkan ragam warna ketika digoyang. Heumh, kreatif.

Masih menikmati eksotika muka buku. Pikiranku mulai bertanya-tanya, kalau depannya saja terlihat ciamik, gimana bagian belakangnya yah? Sesaat kemudian saya membalikkan buku tersebut. Ketika itulah, mata saya langsung terbelalak. Ada perasaan tak percaya melihat sebuah foto terpajang manis mengisi laman penulis. Seorang gadis berjilbab kuning hitam, nampak dominan di antara warna orange dan hijau di halaman buku tersebut.

Entahlah, baru kali ini saya begitu terharu sekaligus bangga ketika melihat sebuah buku. Seakan ada tali yang menyimpul kuat yang menjadikan buku dan penulis itu sangat istimewa. Seragam sekolah yang dikenakan penulis itu, mengingatkan bahwa saya juga pernah berada di dunia yang kini tengah ia pijak. Sebuah gedung hijau yang teduh, pernah menjadi saksi keberadaan saya di sana.

Tak sampai berhenti di halaman belakang. Pikiran ini kemudian menuntun saya untuk segera membuka halaman copyright. Sekadar melihat kapan tepatnya buku ini lahir. Tergurat jelas angka 2011. Itu artinya sekitar dua tahun yang lalu sang penulis merampungkan imajinasinya. Yah, sudah cukup lama. Adakah diwaktu itu, karya ini diapresiasi?

Buku tersebut berjudul Mysterious Egypt. Sebuah buku yang membuktikan, bahwa anak kecil pun bisa mempunyai karya. Penulis itu bernama Husna Salsabila. Dalam keterangan buku tersebut, ia masih duduk di kelas enam SD. Artinya, saat ini mungkin ia tengah menikmati masa putih birunya. Satu kata yang terucap refleks saat itu.. keren!!

Walaupun setelah membacanya, ada beberapa hal yang perlu dikoreksi. Mulai dari latar tempat yang masih ambigu, logika penulisan yang kurang tersusun, serta supraise cerita yang terlalu diada-ada. Tapi tetap, saya akan mengacungi dua jempol ini untuk penulis cilik itu. sebab dengan membaca buku itu, ada satu semangat yang kembali muncul. Kalau dara kecil itu bisa merampungkan idenya menjadi sebuah buku, masa saya enggak?







Peru, 12 Mei 2013